Jumat, 03 April 2015

Mahasiswa Berprestasi


Tugas 1 Mata Kuliah Bahasa Indonesia #2

Bagi kamu yang ingin meneruskan kuliah dan serius di dalamnya, ada baiknya kamu menentukkan dahulu dan meyakini dahulu bahwa tujuan yang kamu ambil itu adalah suatu hal yang memang betul-betul merupakan jurusan yang tepat.

Tidak jarang mahasiswa yang sudah di pertengahan jalan—rata-rata semester 1 sampai semester 3 mengeluh ketika mendapatkan bahwa dia salah jurusan. Ketika ditanya, memangnya dulu kamu pilihan pertamanya apa? Pilihan aku ini sih***, tapi kaena ga masuk ya udah, masuk jurusan ini juga ga apa-apa, yang penting dapat gelar, yang penting bisa kuliah”. Kawan, kuliah itu pada akhirnya merupakan salah satu cara kamu merubah kehidupan kamu. Bukan ternyata kamu membahagiakan orang tua ketika terpaksa mengambil jurusan yang tidak kamu kuasai dan sukai, malah kamu akan menyulitkan dirimu sendiri dan menyalahkan orang lain. Dilemanya adalah kalau diteruskan maka sudah terlanjur keluar uang banyak untuk biaya semester, kuliah, buku, kosan, dan sebagainya.

Juga, sudah terlanjur mengeluarkan bnyak waktu. Ketika teman teman seangkatannya sudah berada jauh di atas, maka dia harus memulai lagi dari bawah. Ketika ingin diteruskan, maka kedepannya sudah pasti bisa ditebak, kuliahnya tidak akan maksimal, bahkan menjadi semakin bobrok. Walhasil, nilai jelek, menyalahkan diri sendiri, mencari pelarian, kerja nggak sesuai jurusam, keahlian tidak maksimal, bakat tidak terkembangkan. Dengan alasan yang kelihatan “simple”ketika dulu menerima jurusan yang akan diambil, pada akhirnya itu adalah sebuah cikal bakal ketidak beruntungan kamu di masa depan. Untuk itu, syarat pertama yang benar-benar harus kamu lakukan adalah benar-benar meyakini bahwa tujuan kuliah yang kamu ambil benar-benar merupakan cita-cita dan tujuan kamu kedepannya. Dan, bila kamu tidak diterima di jurusan yang kamu sukai, maka jangan pernah sekali-sekali mengambil jurusan alternatif yang tidak sesuai selera kamu karena pada akhirnya kamu akan celaka dengan pilihan tersebut. Ketika kamu sudah yakin bahwa tujuan yang kamu ambil adalah benar, maka selanjutnya adalah memaksimalkan usaha untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi.

Setiap mahasiswa pasti mempunyai cita-cita dan impian untuk meraih prestasi. Semangat inilah yang sudah tertanam sejak pertama kali menjadi mahasiswa baru. Tentunya bukan hanya sekedar prestasi akademik semata, akan tetapi juga prestasi dalam bidang yang lainnya (softskill dan hardskill). Kenapa harus berprestasi? Setiap mahasiswa punya jawabannya masing-masing. Pastinya setiap orangtua kita menginginkan anaknya berprestasi. Semua civitas akademika pun akan merasa bangga jika ada salah satu mahasiswanya yang berprestasi. Selain itu, prestasi juga mampu mengangkat citra positif intistusi (kampus) menjadi daya tawar bagi masyarakat. Lantas apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi? Karena setiap mahasiswa mempunyai hak yang sama untuk menjadi mahasiswa berprestasi.

Mahasiswa Berprestasi adalah mahasiswa yang berhasil mencapai prestasi tinggi, baik akademik maupun non akademik, mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bersikap positif, serta berjiwa Pancasila.

Mahasiswa Berprestasi ternyata ada pemilihannya juga ? Kayak pemilu saja. Berarti ada syarat-syaratnya juga dong untuk bisa menjadi kandidat dalam pemilihan mahasiswa berprestasi? “Iya, ada”. Terus cara pemilihannya seperti apa? Terus apa yang harus disiapkan agar bisa menjadi mahasiswa berprestasi? Saya kan masih maba (mahasiswa baru), apakah bisa ikut? Tapi saya tidak punya prestasi apa-apa semenjak  SMA dan belum pernah meraih prestasi apa pun, “Apakah saya masih bisa untuk menjadi mahasiswa berprestasi?” Jawabannya “BISA”. Asalkan ada kemauan yang kuat, niat mau berusaha, berani mencoba dan menghadapi setiap tantangan, pasti ada kemudahan untuk meraihnya.

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mapres) adalah  ajang  rutin yang diselenggarakan setiap tahun (biasanya mulai bulan Januari sampai Agustus) oleh Direktorat  Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pemilihan Mapres ini dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat jurusan/departemen/bagian; tingkat Fakultas; baru kamudian tingkat Perguruan Tinggi (universitas/institut/sekolah tinggi). Kemudian 1 orang mapres terbaik tiap universitas akan masuk ke seleksi selanjutnya menuju seleksi mapres tingkat nasional. Terus bagaimana caranya untuk bisa menjadi mapres? Sepertinya berat sekali beban untuk menjadi mapres. Rasanya sudah pesimis duluan. Minder dan merasa tidak mampu. Eits, tunggu dulu, berat dan pesimis  itu jika tidak mau mencobanya. Persiapkan dan pantaskan diri dulu agar bisa menjadi mapres. Banyak cara yang bisa kita lakukan. Persiapkan sejak semester pertama.

Secara umum kriteria pemilihan mapres ini, berdasarkan pada 4 penilaian berikut, yaitu: Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) (20%), Karya Tulis Ilmiah (30%),  Prestasi/Kemampuan yang diunggulkan (Kegiatan ko- dan ekstra kurikuler) (25%), dan Kemampuan berbahasa Inggris / Asing (25%). Cermati setiap bobot penilaian ini dan siapkan strategi untuk meraih keempat point tersebut.
1.    Indeks Prestasi Kumulatif / IPK
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) adalah seluruh nilai matakuliah rata-rata yang lulus sesuai dengan aturan masing-masing perguruan tinggi. IPK hanya dinilai dalam proses pemilihan Mahasiswa Berprestasi sampai pemilihan tingkat perguruan tinggi. IPK ini biasanya menjadi syarat seleksi awal pemilihan mapres. Oleh karena itu, persiapkan IPK yang baik sejak semester 1. Akademik yang baik (kuliah, praktikum, dan tugas-tugas yang lainnya), usahakan punya targetan IP (Indeks Prestasi) yang akan dicapai dalam tiap semesternya. Kalau mengacu pada pedoman, syarat Indeks Prestasi Kumulatif (IP seluruh matakuliah yang lulus) rata-rata minimal 2,75. Akan tetapi biasanya seleksi awal ditunjuk oleh jurusan/fakultas berdasarkan nilai IPK tertinggi yang ada. 

2.    Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis Ilmiah yang dimaksud disini adalah tulisan ilmiah hasil dari kajian pustaka dari sumber terpercaya yang berisi solusi kreatif dari permasalahan yang dianalisis secara runtut dan tajam, serta diakhiri dengan kesimpulan yang relevan. Ini nih, yang terkadang banyak mahasiswa yang merasa tidak bisa membuat karya tulis. Kunci utama untuk bisa membuat karya tulis adalah mencoba membuatnya dan diikutkan dalam lomba karya tulis, coba diikutkan dulu tingkat lokal terus berlajut tingkat nasional.  Semakin banyak mencoba maka akan semakin terasah. Selain itu jika ada workshop atau pelatihan tentang KTI coba diikuti untuk menambah wawasan. Bertanya pada kakak angkatan yang pernah membuat, berdiskusi dengan dosen, banyak membaca, ikuti ketentuan yang ada di pedoman, dan yang terpenting adalah adanya kemauan yang kuat untuk mencobanya.

3.     Prestasi/Kemampuan yang diunggulkan berupa Kegiatan ko-ekstra kurikuler
Prestasi/kemampuan yang dimaksud disini adalah prestasi yang diraih selama menjadi mahasiswa baik dalam kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler sehingga mendapatkan pengakuan, penghargaan, dan berdampak positif pada masyarakat. Prestasi itu bisa dari memenangkan lomba tertentu baik yang lokal, regional, nasional, hingga internasional (misalnya: olimpiade, PKM, LKTI, MTQ, bisnis plan, lomba debat, lomba pidato, lomba olahraga tertentu, exchange ke luar negeri dan lain sebagainya). Oleh karena itu, carilah prestasi yang sesuai dengan minat dan bakatmu. Take action with your passion. Selain itu prestasi juga bisa dilihat dari aktivitasnya menjadi aktivis organisasi baik UKM, HIMA, BEM, IOMS, atau organisasi yang lainnya (baik yang tingkat jurusan, fakultas, universitas, regional, atau pun tingkat nasional). Selain itu, sempatkan waktu untuk mengikuti kegiatan ko-ekstrakurikuler: jadi ketika kuliah jangan cuma berkutat di level akademik saja (istilahnya IP-minded), ikutilah kegiatan yang lainnya yang tentunya bermanfaat dan berdampak pada pengembangan diri kita. Sebagai contoh seperti mengikuti: seminar, workshop, pelatihan, talkshow, atau kompetisi penalaran tentang kemahasiswaan seperti PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), PMW (Program Mahasiswa Wirausaha), dan event-event lainnya sangat banyak sekali. Atau bidang seni ada PEKSIMINAS (Pekan Kesenian Mahasiswa Nasional), bidang olahraga ada POMNAS (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional), dan bidang-bidang lainnya, tentunya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki masing-masing mahasiswa. Persiapkan juga piagam, sertifikat, SK, surat tugas, dan berkas-berkas penting lainnya yang pernah didapatkan selama menjadi mahasiswa.

4.    Kemampuan berbahasa Asing
Penilaian bahasa Inggris/Asing dilakukan melalui dua tahap yaitu (1) penulisan ringkasan (bukan abstrak)berbahasa Inggris/Asing dari karya tulis ilmiah dan (2) presentasi dan diskusi dalam bahasa Inggris/Asing. Oleh karena itu sejak semester pertama harus disiapkan dan dilatih kemampuan bahasa asingnya, bisa belajar secara otodidak, bergabung dengan ukm/organisasi yang fokus pada bidang bahasa inggris (English), mengikuti pelatihan tes TOEFL atau sejenisnya, ikut lomba debat, ikut kursus bahasa asing pada lembaga-lembaga tertentu dan lain sebagainya. Kalau bisa ikutilah program student exchange ke luar negeri atau event-event internasional lainnya, karena kegiatan yang internasional point penilaiannya paling tinggi. 

Selain itu, masih ada penilaian lain yang dinilai dalam pemilihan mahasiswa berprestasi yaitu kepribadian. Dalam pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat nasional kepribadian dinilai dengan uji psikotes. Jadi kalau mau ingin menjadi kandidat mapres harus bisa seimbang semuanya, yaitu Akademik, Aktivis, Prestasi, Kegiatan ko-ekstrakurikuler, dan kemampuan berbahasa inggris. Persiapkan sejak sekarang juga, sejak kamu menjadi mahasiswa semester pertama. Manfaatkan setiap peluang yang ada, Man Jadda Wa Jada “barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka pasti akan berhasil”.

Sumber :


Remaja dan Narkoba


Tugas 1 Mata Kuliah Bahasa Indonesia #2


Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di sekolah. Yang pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sikap orangtua memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan akan penggunaan narkoba pada anak-anak. Strategi untuk mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba termasuk memperbaiki pola asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah. Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang sering digunakan.

Apa itu Narkoba?

Istilah “narkoba” mulai dikenal pada sekitar tahun 1998, akibat maraknya kasus penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat aditif terlarang. Agar lebih mudah dalam penyebutan, masyarakat menyingkat istilah narkotika, psikotropika, dan zat aditif terlarang menjadi narkoba. Sekarang istilah ini sudah sangat akrab di telinga masyarakat.
Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya.
Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini pemanfaatannya disalah gunakan diantaranya dengan pemakaian yang telah diluar batas dosis / over dossis.
Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga jika disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial. Karena itu Pemerintah memberlakukan Undang-undang (UU) untuk penyalahgunaan narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.

Masalah Penyalah Gunaan Narkoba Dikalangan Remaja Siswa

Masalah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja dan pelajar dapat dikatakan sulit di atasi, karena penyelesaiannya melibatkan banyak faktor dan kerjasama dari semua pihak yang bersangkutan, seperti pemerintah, aparat, masyarakat, media massa, keluarga, remaja itu sendiri, dan pihak-pihak lain. Dikatakan, penyalahgunaan narkoba terjadi karena korban kurang atau tidak memahami apa narkoba itu sehingga dapat dibohongi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab (pengedar). Keluarga, orang tua tidak tahu atau kurang memahami hal-hal yang berhubungan dengan narkoba sehingga tidak dapat memberikan informasi atau pendidikan yang jelas kepada anak-anaknya akan bahaya narkoba. Kurangnya penyuluhan dan informasi di masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba. Untuk itu penyuluhan dan tindakan edukatif harus direncanakan, diadakan dan dilaksanakan secara efektif dan intensif kepada masyarakat yang disampaikan dengan sarana atau media yang tepat untuk masyarakat.

Narkoba (nakoba dan Obat/Bahan Berbahaya), disebut juga NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain)  adalah obat bahan atau zat bukan makanan yang jika diminum, diisap, dihirup, ditelan, atau disuntikan, berpengaruh pada kerja otak  yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak (susunan saraf pusat), sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA tersebut. Berdasarkan jenisnya narkoba dapat menyebabkan; perubahan pada suasana hati, perubahan pada pikiran dan perubahan perilaku.

Narkoba dan obat-obatan psikotropika sudah merambah ke segala lapisan masyarakat Indonesia.Yang menjadi sasaran bukan hanya tempat-tempat hiburan malam, tetapi sudah merambah ke daerah pemukiman, kampus dan bahkan ke sekolah-sekolah. Korban penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin bertambah dan tidak terbatas pada kalangan kelompok masyarakat yang mampu, mengingat harga narkoba yang tinggi, tetapi juga sudah merambah kekalangan masyarakat ekonomi rendah. Hal ini dapat terjadi karena komoditi narkoba memiliki banyak jenis, dari yang harganya paling mahal yang hanya dapat beli oleh kalangan elite atau selebritis, sampai yang paling murah yang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat ekonomi rendah.

Mencermati perkembangan peredaran dan penyalahgunaan narkoba akhir-akhir ini, telah mencapai situasi yang mengkhawatirkan, sehingga menjadi persoalan kenegaraan yang mendesak. Karena korban penyalahgunaan narkoba bukan hanya orang dewasa, mahasiswa tetapi juga pelajar SMU sampai pelajar setingkat SD. Dikatakan, remaja merupakan golongan yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba karena selain memiliki sifat dinamis, energik, selalu ingin mencoba. Mereka juga mudah tergoda dan putus asa sehingga mudah jatuh pada masalah penyalahgunaan narkoba.

Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan narkoba yang bukan untuk tujuan pengobatan, tetapi agar dapat menikmati pengaruhnya, dalam jumlah berlebih, secara kurang lebih teratur, berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan ganggunan kesehatan fisik, gangguan kesehatan jiwa, dan kehidupan sosialnya. Penyalahgunaan narkoba oleh remaja merupakan masalah yang serius, karena penyalahgunaan narkoba dapat merusak masa depan remaja. Menurut laporan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Jakarta, dari penderita yang umumnya berusia 15-24 tahun, banyak yang masih aktif di SMP dan SMA, bahkan perguruan tinggi. Generasi muda merupakan sasaran strategis mafia perdagangan narkoba. Oleh karena itu, generasi muda sangat rawan terhadap masalah tersebut.

Bahaya Fisik Karena Narkoba

Sesungguhnya bahaya narkoba bukanlah hal yang jarang didengar oleh masyarakat. Bahkan pendiddikan mengenai bahaya narkoba telah diajarkan sejak dini. Namun, masih banyak pula para pengguna narkoba yang tidak peduli dengan hal tersebut. Berbagai bahaya seperti mengakibatkan gangguan pembuluh darah dan hipertensi sehingga berimbas pada kerusakan jantung. Gangguan pada paru-paru yang nantinya akan berefek pada sistem pernafasan manusia. Adapun, gangguan funsgsi seksual, turunnya nafsu makan yagn berakibat seseorang terlihat sangat kurus, serta gangguan sistem pencernaan lainnya. Fungsi tubuh akan menurun dan akan selalu lemas sebab pengguna narkoba umunya malas untuk bergerak. Dampak yang paling parah adalah kerusakan otak dan terkena HIV/AIDS yang membawa pada kematian.

Bahaya Sosial Akibat Narkoba

Pengguna narkoba ini akan merugikan keluarganya, tidak jarang pengguna narkoba yang nekad mencuri uang orangtuanya agar mendapat uang untuk membeli narkoba. Bahkan mereka juga bisa menjual barang berharga yang ada di rumah dan melakukan cara apapun hingga tindak kriminal agar bisa memperoleh uang untuk membeli narkoba. Mereka yang telah diketahui mengonsumsi narkoba biasanya dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Khususnya untuk remaja yang masih menempuh jenjang pendidikan terancam dikeluarkan dari sekolahnya.
Mengetahui bahaya-bahaya di atas, masihkan seseorang menginginkan narkoba dengan alasan apapun. Jangan pernah ingin mencoba bahkan hanya jika ingin tahu seperti apa narkoba tersebut, karena sekali mencoba dipastikan membuat kecanduan si pemakai narkoba.

Tips Cara Menghindari Narkoba

  1. Jangan pernah mencobanya, walaupun untuk iseng atau untuk alasan lain, kecuali perintah dokter/alasan medis.
  2. Kuatkan iman, mantapkan pribadi, pakailah rasio (pemikiran, pertimbangan) lebih banyak dari pada emosi.
  3. Jangan menghindar dari problem, tetapi hadapi dan atasi persoalan sampai tuntas, bila tak mampu konsultasi pada ahli.
  4. Pilihlah pergaulan yang aman jangan yang berbahaya.
  5. Pilih kegiatan yang sehat, tak merugikan diri sendiri ataupun orang lain, ikutilah klub olah raga, organisasi sosial. Lakukan hobi bersama teman dan keluarga.
  6. Gunakan waktu dan tempat yang aman, jangan keluyuran malam-malam. Bersantailah dengan keluarga, berkaraoke, piknik, makan bersama, masak bersama, beres-beres bersama nonton bersama keluarga.
  7. Selalu berusaha menjadi pribadi yang baik, bertindak positif, bertanggungjawab, jadilah figure/sosok yang diteladani.
  8. Berusahalah “saling mendengar”, saling mengingatkan dan saling memaafkan agar semakin mendewasakan pribadi masing-masing.
  9. Buatlah keluarga, rumah tangga, menjadi tempat yang paling menyenangkan, paling menenangkan sehingga membuat “betah” tinggal bersama “sahabat”.
  10. Selalu ingatkan, bahwa ancaman hukuman untuk penyalah guna Narkoba, apalagi bagi pengedar Narkoba adalah Lembaga Pemasyarakatan.
  11. Ingatkan bahwa Narkoba akan merusak kerja otak, susunan syaraf pusat, merusak ginjal, lever dan sebagainya.

Seperti kata sebuah ungkapan “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Untuk itu saya menghimbau bahwa Lebih baik mencegah diri kita, teman, keluarga, kerabat, siapun yang kita sayangi terkena pengaruh Narkoba daripada kita harus mengobatinya. Karena untuk proses pengobatan dan penyembuhan tidaklah mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sumber :



Fenomena Pria Metroseksual

Tugas 1 Mata Kuliah Bahasa Indonesia #2

Coba perhatikan sekeliling kita, rasanya sebutan pria sebagai makhluk yang cuek dengan penampilan, mulai terkikis sedikit demi sedikit. Saat ini, makin banyak pria yang stylish dan mendandani dirinya agar tampil lebih menarik. Mulai dari rajin nge-gym, hobi belanja, sampai melakukan perawatan di salon, adalah beberapa ciri khas pria metroseksual. 

Di masa 10 tahun lalu banyak orang yang menganggap aneh kalau ada pria pergi ke salon untuk perawatan wajah dan memanjakan tubuh. Demikian pula jika ada pria berdandan dinilai sebagai hal yang tidak wajar. Bahkan ada pria yang tidak kalah dibandingkan wanita dalam hal perawatan tubuh dan ikut tren mode. Pria seperti ini mendekonstruksi tatanan pemahaman umum bahwa yang punya hak merawat tubuh dan mengikuti perubahan mode hanya wanita.

Istilah metroseksual ini pertama kali diperkenalkan pada 15 November 1994 oleh Mark Simpson dalam sebuah artikel di koran Inggris, The Independent. Pria-pria ini berani merusak kode maskulin dan merengkuh sisi femininnya. Uang dan waktu banyak digunakan untuk penampilan dan belanja. Artis-artis top dunia pun telah mengampanyekan gaya hidup ini. Bahkan bintang sepak bola, David Beckham dianggap sebagai salah satu ikon metroseksual.

Dahulu hanya segilintir pria yang bergaya metroseksual. Tapi, efek media massa membawa pria yang berada di kehidupan metropolitan di penjuru dunia, mulai terayu dengan gaya hidup ini. Kehidupan metropolitan telah menuntut para pria untuk mengikuti tata cara metropilis universal seperti etika di acara formal, table manners, dan tentu saja tentang gaya hidup dan mode.

Pada awalnya, sebutan metroseksual dipandang hanya sebagai gaya hidup yang memperhatikan pada penampilan, namun dari perspektif lain, pria metroseksual adalah pria yang selalu memandang hidup dengan optimistis dan realistis. Pria metroseksual memahami bahwa dalam hidup selalu ada beberapa pilihan, sehingga selalu mencari yang terbaik. 

Hal lain dari yang menyadari apa yang dilakukannnya, terkadang pria yang selalu berpakaian rapi dan necis dimana dianggap sebagai pria metroseksual, ternyata pelakunya banyak yang tidak paham dengan maksud tersebut. Justru ketika pria ini dikatakan metroseksual, mereka merasa keberatan, karena beberapa beranggapan pria metroseksual memiliki konotasi negatif, karena kata metroseksual juga identik dengan “anak cantik”. 

Pendapat lain mengungkapkan, metroseksual bisa menjadi pemisah dengan gaya berpenampilan ala gay. Pria juga kerap berpenampilan rapi. Dan, metroseksual dianggap pemisah antara pria normal yang berpenampilan menarik dengan pria gay.

“Saya menemukan orang-orang saling memiliki pendapat bertentangan tentang metroseksual tersebut. Kadang-kadang satu orang mengungkapkan konotasi negatif dan positif pada kedua kata,” kata Erynn Masi de Casanova, peneliti dari Universitas Cincinnati Amerika Serikat.

Lalu, apakah pria metroseksual memiliki kecenderungan menjadi gay? Pergaulan ternyata dapat membentuk watak seseorang. Hal itu menjadi kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Masrur Yusuf dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. 

Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata ada korelasi positif antara gaya hidup seorang metroseksual dengan kecenderungan menjadi gay. Menariknya, mereka bukanlah berasal dari kalangan sembarangan. Kebanyakan berasal dari kalangan jetset dengan kisaran usia antara 30-45 tahun.

"Pria atau kaum metroseksual itu memiliki gaya hidup yang narsis, hedonis, dan dandis. Mereka memang dari kalangan yang berduit. Bagi mereka, sudah tidak ada lagi batasan yang membedakan pria dan wanita. Pria ataupun wanita sama saja," jelas mahasiswa yang akrab dipanggil Arul ini.

Selama penelitian, Arul harus berjibaku dengan segala godaan yang diterimanya. Bahkan, ia mengaku godaan tersebut hampir membuatnya terlena saat menggali data. Untuk mendapatkan data yang valid, dia harus rajin datang ke mall, gay bar, butik pria, dan tempat-tempat tertentu lainnya.

Pria metroseksual lebih dari sekedar fakta melainkan juga sebuah fenomena yang kian menggejala di hampir semua kota besar dewasa ini. Pria metroseksual adalah pria yang women-oriented dan memiliki karakteristik unik seperti narsis dan merawat dirinya seringkali melebihi apa yang dilakukan oleh wanita. Mereka bisa membeli apa pun yang mereka inginkan untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan dan penampilan. Kebanyakan pria metroseksual memiliki pendapatan yang besar. Hal ini diperlukan untuk menunjang pemenuhan kebutuhan mereka terutama yang berkaitan dengan penampilan. Hal ini menyebabkan perilaku konsumtif yang mereka tunjukkan relatif agak berbeda dengan orang kebanyakan. 

Untuk itu saya menghimbau masyarakat agar jangan sampai terjerumus dalam pergaulan yang salah, apalagi terlalu dalam masuk "jurang" kehidupan metroseksual dan terlibat secara langsung kehidupan kaum gay. Sebab, jika terlalu masuk dalam kehidupan kaum gay maka akan sulit untuk mengembalikan sebagai kehidupan sebelumnya. Namun, jika ingin mengetahui proses kehidupannya tidak akan menjadi masalah yang besar.


Pria metroseksual merupakan para penikmat hidup sejati. Ini tidak lepas dari kemampuan finansial yang mendukung.  Namun, mereka tidak hanya hidup dalam keglamoran semata, sebagian besar pria metroseksual juga merupakan pekerja cerdas yang penuh percaya diri, berdedikasi tinggi, serta berkomitmen kepada karya dan keluarga. “Jangan menilai buku itu dari kulitnya.” Sekalipun kulit buku atau sampul buku itu tidak bagus dan tidak menarik, belum tentu isinya juga tidak bagus dan tidak menarik. Sebaliknya, belum menjadi jaminan bahwa sampul atau kulit yang menarik menentukan isi buku yang menarik juga.